Rabu, 11 November 2009

vacuum

kawan sayaaang. maaf aku mau pause cerita ini dulu yaa, janji deh aku lanjutiin
sekarang lagi nggak bisa mikir lanjutannya.
maaf yaaa

maaaaaaaaaf banget

Rani Qurotu Aini Nichole Williams Boyd Urie Natsir Farro Wanda O'shea
:DD

Minggu, 04 Oktober 2009

i'll never let this go | part 8

Hana's P.O.V.

aku bangun di pagi hari, saat kulihat jam dindingku jarum pendeknya ada di angka delapan. kejadian semalam benar benar membuatku lelah. Alice juga sepertinya masih pulas tidur di sebelahku. benar benar wanita cantik dan anggun. saat tidur pun dia sama sekali tidak terlihat konyol.

aku jadi lapar saat memandangi Alice tidur. walaupun bukan itu alasannya. aku lapar karena mencium bau harum dari bawah dan akhirnya memutuskan pergi ke sana. pancake, kurasa.
aku menuruni tangga dan kulihat ibu membuat pancake di dapur. harumnya semakin kuat. perutku sudah meminta pancake dan sirup maple kurasa.

"oh, sudah bangun, Hana ?", kata ibu sambil menaruh pancake ke atas piring dan menyodorkan piring itu ke arahku

"hm, iya." kataku mengambil pancake dan menyiramnya dengan sirup maple dan whipped cream. ke atasnya.

"Alice mana ?", tanya ibu sambil mengoleskan selai strawberry ke atas pancake-nya

"masih tidur, sepertinya kelelahan.", kataku lagi, kali ini dengan mulut penuh potongan pancake yang hangat dan enak. rasanya meleleh di lidahku.

"oh...", kata ibu

setelah agak lama aku menikmati sarapanku terdengar bunyi seperti pintu dibuka. dan memang benar, pintunya memang dibuka. apa lagi yang bisa terdengar seperti bunyi pintu dibuka kalau bukan bunyi pintu terbuka itu sendiri ? ah. aku berargumen seperti orang tolol.

"selamat pagi !", kata Rei masuk ke rumahku tanpa mengetuk pintu. dengan wajah ceria seperti biasanya. dasar, kalau makanan cepat sekali datangnya. pikirku.

"selamat pagi, Rei...", kata ibu menyiapkan jatah Rei

"hei, kau. sepertinya aku punya panggilan baru untukmu, bagaimana kalau anjing ? aku heran hidungmu itu kira kira dibuat dari apa ya ? peka sekali kalau ada makanan enak.", kataku heran.

"hahaha, aku suka panggilan baru itu. tapi jangan membenciku. aku kan suka masakan ibumu. lagipula hidungku ini kebanggaanku." katanya membanggakan hidung anjingnya itu.

"dasar. lalu sebenarnya ada apa kemari ? tidak biasanya datang pagi pagi seperti ini.", tanyaku.

"oh, aku mau mencari sesuatu di internet. untuk tugas si nenek sihir minggu depan.", katanya.

"oh, guru gila itu.", kataku sambil memikirkan miss Stryder dengan kacamata tebal dan rambut di-roll ke dalam dengan sebuah tongkat besi kurus di tangannya. oh, aku tidak akan lupa untuk menambahkan keriput keriput di wajahnya. "em, memangnya di rumahmu ?",

"kau tau lah. ibuku.", katanya menyela pertanyaanku.

"oh, ayo naik kalau begitu.", kataku sambil berjalan menuju ke kamarku. Rei mengikutiku setelah menambah pancake-nya.




di kamarku dia menyadari kehadiran malaikat yang sedang tidur pulas di tempat tidurku itu.

"eh, siapa itu ?", kata Rei saat menyadarinya.

"itu Alice. sudah, jangan sampai dia bangun. jangan kau apa apakan.", kataku sambil menyalakan satu satunya asetku. iMac-ku.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

judgying people you dont know for things you dont understand is just really stupid

Ellen Page


Selasa, 22 September 2009

i'll never let this go | part 7

Alice's P.O.V.

aku ragu ragu saat hendak masuk ke kamar Hana, tapi setelah pintunya dibuka, ruangan itu serasa menarikku, menarik tubuhku yang lelah dan kedinginan ini. dan saat melihatnya, aku seperti sedang melihat dongeng. kamarnya hangat, bahkan lantainya hangat. sehingga tempat tidurnya diletakkan begitu saja di atas lantai, tanpa kayu penyangga. warna kamar itu cantik sekali. kamarnya didominasi warna warna pastel, dan tampak banyak pattern di sekelilingnya. walaupun tidak terlalu besar, tapi terlihat nyaman. lagipula kasurnya double, jadi aku tidak perlu tidur di lantai. walaupun aku juga tidak keberatan.

setelah berganti baju dengan baju tidur Hana, well, tanktop dan celana pendek berenda yang nyaman. aku dan Hana duduk di kasur.

"hm... Alice ?", kata Hana memanggilku, sembari menelengkan kepalanya. di saat seperti ini aku baru sadar, Hana manis sekali.

"iya, kenapa ?", tanyaku. walaupun aku tahu apa yang hendak ditanyakan Hana.

"ng... sebenarnya", katanya ragu ragu. "sebenarnya apa yang sedang terjadi di rumahmu ?", tanyanya. ting tong. aku benar kan ?

"em.. tidak apa apa. aku hanya tidak ingin bertemu ayahku.", kataku mengakui

"kenapa ? aku malah ingin sekali bertemu dengan ayah.", katanya cemberut. seperti tidak setuju dengan argumenku tentang lelaki tua brengsek itu. andai saja dia tahu seperti apa ayahku.

"tidak apa apa. oh iya, ngomong ngomong aku tidak melihat ayahmu. memangnya di mana dia ?", tanyaku menyadari ayah Hana tidak terlihat.

"oh, ah, ayahku... sudah meninggal. kemarin tepat satu tahun.", katanya.
pantas saja dia ingin bertemu dengan ayahnya. sepertinya ayahnya sangat berarti bagi Hana. tidak sepertiku

"maafkan aku, aku tidak bermaksud..."

"sudahlah, tidak apa apa. semua datang dan pergi kan ? lagipula seram juga rasanya kalau aku bertemu dengan dia sekarang.", kata Hana mencairkan suasana.
kami pun tertawa dan menyadari hari semakin larut. itu kusadari bukan karena adanya jam dinding. tapi karena semakin lama aku semakin mengantuk. dan kusadari sepertinya Hana merasakan hal yang sama.

"emh, bagaimana kalau tidur ? aku mengantuk sekali. rasanya aku bisa tidur sampai tengah hari, selamat tidur Hana..", kataku sambil menguap.

"selamat tidur, Alice... mimpi indah.", kata Hana, tapi aku terlalu lelah untuk menjawab lagi salam selamat tidurnya. dan aku pun terlelap

_______________________________________________

wohhoo, part 7 ! heei hei, menurut kalian yang baca cerita ini ada ngga artis ato siapalah yang bisa dijadiin tokoh di cerita ini ? tulis komen yaa :DDD
thankso

Minggu, 30 Agustus 2009

i'll never let this go | part 6

"apa yang kau lakukan di sini, dasar bodoh !", kata Alice membentakku, dan menepuk pipiku, tangannya dingin.

"Alice, maafkan aku... em... aku... itu... aku, sepertinya... melindur. seperti... em... jalan sambil tidur, begitu... haha...", kataku berusaha meyakinkannya walaupun aku juga tidak yakin. "ng.. atau mungkin... la..ri ?", kataku terdengar sangat tidak yakin. sekaligus tidak enak dengan Alice.

"Hanaaaa, kau ini...", katanya sambil merosot duduk di depanku. "kukira tadi kau sudah mati ! dasar ! jangan membuatku kaget seperti ini, dong. memangnya ada di mana rumahmu ?"

"itu, di sana. dekat kok.", kataku sambil menunjuk rumah mungil di ujung jalan. "hehe."

"kuantar, ya.", katanya sambil berdiri dan menarik tanganku.

"ah, tidak usah. dekat kok, tidak perlu. lagipula, ini kan sudah malam. kau tidak pulang ?", tanyaku menyadari hal yang bisa membuat Alice berhenti menarikku. dia diam.

"hm... sebenarnya...", katanya setelah agak lama terdiam dengan wajah tidak yakin.

akhirnya kami berdua ke rumahku setelah Alice bercerita kalau dia ingin menumpang menginap karena di rumahnya sedang ada sesuatu. dan aku senang Alice di sini. setidaknya aku punya teman mengobrol saat aku sedang menghadapi traumaku. semenjak aku masuk SMA, aku tidak lagi mengetuk jendela kamar Rei untuk bercerita. itu akan sangat mengganggunya. terlebih saat akhirnya dia mempunyai seorang pacar. dan dengan adanya Alice, aku sedikit terbantu.

"ayo masuk," kataku pada Alice. "maaf, rumahku kecil."

"iya, terima kasih. rumahmu indah.", jawab Alice menerawang.

"siapa itu ?", tanya seseorang keluar dari kamar, yang ternyata adalah ibu.

"ibu. jahat sekali, ibu ini. ibu tidak mengunci pintu lagi ! aku berlari sampai taman, tahu.", protesku memberengut. "untung Alice menemukanku.", aku protes sampai lupa memperkenalkan Alice dan baru sadar saat melihat wajah ibuku menjadi kebingungan.

"Alice ?", tanyanya sambil melayangkan pandangannya ke Alice.

"ah, iya, ini Alice. kami bertemu tadi siang dan berkenalan. oh, Alice, perkenalkan ini ibuku, Jenna. ibu, ini Alice." kataku memperkenalkan mereka berdua.

"aku Alice..", kata Alice ramah

"Jenna, ibu Hana.", kata ibuku tersenyum. tapi langsung berubah ketika menatapku. "Hana, kau berlari ?! aku lupa mengunci pintu lagi ? kau tidak apa apa ? kedinginan tidak ?", kata ibuku sambil memegangi bahuku. "ah, em, Alice, teman Hana ?", tanya ibu

"eh, iya. teman Hana."

"hei, Hana, aku tidak peduli kau dari mana dengan siapa tadi tapi siapa gadis cantik yang namanya juga cantik ini ? ada perlu apa di rumah kita ?", ibu berbisik kepadaku.
awalnya aku merasa tidak yakin, tapi akhirnya aku beritahu apa maksud Alice datang ke sini.

"ng ibu, Alice sepertinya sedang tidak punya tempat untuk tinggal malam ini dan besok. boleh kan dia menginap di sini ? kumohon." kataku memohon kepada ibu. kelihatannya ibu berpikir dulu sebelum menjawab. kadang dia suka sok serius.

"em, boleh saja, tapi memangnya apa yang terjadi di rumahmu, Alice ?" kata ibu

"ah, rumahku... sedang tidak beres.", jawab Alice dengan wajah sedih.

"baiklah, Alice boleh menginap di sini 2 hari. tapi setelah itu selesaikan masalah di rumahmu ya. bukan maksudku kau tidak boleh menginap di sini lebih lama. hanya saja kau tidak boleh terus lari dari masalah. kau harus menyelesaikannya, mengerti ? kalau mau bicara, bicara saja kepadaku, atau Hana. kapan saja boleh.", kata ibu sambil tersenyum. "nah, sekarang... tidur saja di kamar Hana. aku mau kunci pintu dulu.", kata ibuku sambil berjalan ke arah pintu.

"ayo, Alice...", kataku mengajaknya ke kamar. di kamarku, Alice berganti baju dengan baju tidurku. karena Alice memakai sequin dress dan leather jacket. mana mungkin tidur dengan baju seperti itu. walaupun itu membuatku bertanya tanya juga. apa yang habis ia lakukan ya. dan untungnya ukuran baju kami sama. walaupun Alice lebih tinggi.
kami duduk duduk di tempat tidur yang memang berada di lantai.


~*~*~okeeeh, udahan dulu ah. capeeek !!! XDD~*~*~
kalo ada yg mau ditanya, tulis komen aja ya. ato ngga add facebook rani (anagkechil@msn.com)
ato twitter (pararanran)
*berasa kaya penulis beneran :P*

bye
-ran-

Kamis, 27 Agustus 2009

i'll never let this go | part 5

Hana's P.O.V

aku bermimpi sedang berada di padang rumput. bersama ayah. ayah.. aku rindu ayah. aku mulai berlari lari bersama ayah di padang rumput yang hangat. tapi saat menyadari hawa mulai dingin, aku mulai mencari baju hangatku -lengkap- dan memakainya seketika. aku berlari lagi mengejar ayah. tapi cuaca tiba tiba berubah. mulai dri angin dingin yang kencang, lama lama pandanganku kabur. salju. iya. salju yang membuat pandanganku menjadi kabur dan lama lama ayah menghilang ditelan salju.

merasa lelah, aku putuskan untuk duduk dan menangis. dingin sekali rasanya. saking dinginnya sampai aku tidak yakin ini nyata atau mimpi. aku menangis dan menangis. sampai ada suatu suara yang sangat merdu memanggilku
"Hana, Hana..." katanya.

nadanya cemas sekali. ooh, mungkin dia malaikat yang akan membawaku ke tempat ayah. tapi aku bingung, apakah kulit malaikat sangat dingin ?

akhirnya dengan susah payah aku mencoba membuka mata. pelan pelan pandanganku kabur karena air mata.

seseorang yang kukira malaikat itu masih memanggilku dengan cemas. kali ini dia hampir berteriak dan menepuk nepuk pipiku. menampar mungkin kata yang lebih tepat.
"Hana ! Hanaaa !!! bangun ! Hana !!", katanya lagi.

setelah mataku bisa membuka, walau terhalang air mata, aku semakin yakin kalau dia adalah malaikat. karena wajahnya yang sangat cantik. tapi entah mengapa, wajah itu terlihat familiar. sekarang dia tersenyum tidak percaya kepadaku. seakan akan akulah malaikat itu. takjub melihatku, dia memelukku.

"Hana, ayo bangun. kau sudah bangun, kan ?" katanya sambil memelukku. walaupun tubuhnya sangat dingin, tapi aku bisa merasakan kehangatannya sedikit.

"mmhh...", susah payah aku menghapus air mataku dan terbelalak kaget dengan wajah orang yang (tadinya) kusangka malaikat itu.
"Alice ?!", kataku nyaring

"Hana, untunglah masih hidup.", katanya memelukku lagi.

"apa yang kau lakukan di sini ?", tanyaku heran

"well, biar kupikirkan. memangnya itu kalimat siapa ? tentu saja AKU !", katanya sambil menunjuk dirinya dan memasang wajah garang. sesaat aku melihat keadaan sekeliling. astaga, aku sedang tidak berada di kamarku. aku sedang di taman. aku sedang duduk, well. TIDUR di ayunan. rupanya aku tidur berjalan lagi. padahal kebiasaan itu kukira sudah hilang 5 tahun lalu. lagipula ini pertama kalinya aku keluar di malam musim dingin. untungnya mimpiku membuatku memakai pakaian lengkap. jangan jangan, aku tadi bukannya berjalan, tapi... BERLARI ? OH TIDAK !

YEAH !!!! JUST WAIT ;p

Jumat, 07 Agustus 2009

i'll never let this go | part 4

Alices POV

Aku menelepon Hana berkali kali semenjak dia terakhir kali mengangkat teleponku. Tapi handphone-nya masih saja mati. Sekarang jam 2 pagi, aku tetap tidak tahu harus pulang ke mana. Yang pasti aku tidak mau pulang ke rumahku di mana ada kakek tua brengsek itu malam ini.


Mungkin aku bisa pulang ke rumah sekitar jam 9 saat kakek tua itu sudah menyibukkan dirinya di kantornya yang berbau sampah itu. Aku hanya tidak suka dengan bau parfumnya yang menyengat itu. Jadi seringkali kukomentari bau parfumnya seperti bau sampah. Tapi dia malah memukuliku sampai biru biru. Selain brengsek dia juga sakit jiwa. Apa dosaku ya punya ayah seperti dia ?


Aku masih belum bisa menemukan tempat untukku malam ini. Walaupun pakaianku cukup tebal tapi tetap saja aku merasa kedinginan. Dan lagi, toko toko kebanyakan sudah tutup. Jadi aku tidak bisa masuk untuk merasakan penghangat di dalam. Ada bar yang masih buka, tapi siapa yang mau masuk ke tempat seperti itu ? salah salah nanti aku malah jadi pelacur. Aku kan cantik. Setidaknya begitu kata ibuku.

Aku masih berjalan kedinginan dan kelaparan. Tidak ada toko yang masih buka sekarang. Aku mencoba mengingat ingat kejadian tadi siang. Sepertinga Hana, Riri dan Rei masih SMA. Tapi ketiganya sekolah di SMA yang berbeda. Karena aku melihat mereka memakai badge SMA yang berbeda. Kecuali Rei. dia tidak memakai badge apa-apa.Yang kuingat dan aku tahu letaknya hanyalah SMA Hana, yang kebetulan dulu adalah sekolahku juga. jadi kuputuskan untuk ke sana saja. Siapa tahu masih ada guru yang tinggal. Daripada mati konyol karena kedinginan di sini. Pikirku.

Saat sampai ke SMA Hana dan juga SMA-ku, jangankan mengharap ada guru yang masih tinggal, melihat bangunan kosong itu dari luar saja aku sudah merinding. Bangunan sekolah yang dicat warna putih, dengan lampu lampu yand dimatikan dan dikelilingi dengan taman dengan pohon yang lebat. Lebih baik aku mati di jalanan daripada mati bertemu hantu. Pikirku lagi.


Akhirnya aku berjalan terus sampai ke taman dan kulihat ada seseorang yang menaiki ayunan. Sepertinya itu wanita. Karena kulihat rambutnya panjang dan bertubuh mungil. Serta memakai rok. Yang terakhir ini tidak bisa dipungkiri rasanya.

Serta merta aku ingin tahu dan mendekatinya. Saat berada cukup dekat dengannya dan bisa melihat wajahnya, aku kaget bukan main dengan apa yang kulihat. Wanita itu walaupun berpakaian lengkap tapi dia sedang tidur. Di taman terbuka di cuaca sedingin ini


Hana ?!. kataku dengan mata membelalak. Kaget.

Minggu, 12 Juli 2009

i'll never let this go | part 3

Kami makan es krim di toko tempat kakak Riri bekerja. Syukurlah, sepertinya Alice menikmatinya. Es krim di sini memang enak. Yumm


“ah, Alice, berapa nomor handphone-mu ?”, kata Riri di tengah tengah keasyikannya makan es krim, sambil menyodorkan handphone-nya ke tangan Alice, dan Alice mengambilnya.


“emh... nah, sudah. Ini.”, kata Alice menyerahkan kembali handphone Riri setelah mengetikkan nomornya.


“aku missed call, ya.” Kata Riri dan sesaat kemudian handphone Alice berdering.”simpan nomorku, ya.”, kata Riri, tersenyum


“tentu. Ah, aku juga mau minta nomor Hana dan Rei, boleh kan ?”, katanya sambil tersenyum. Alice cantik sekali. Tersenyum dengan wajah segar seperti itu. Atau mungkin karena rambutnya pendek jadi terlihat segar ya ? pokoknya segar. Hm


“ah, tunggu sebentar. Riri, aku minta nomor Alice, aku missed call saja ya, Alice ?” kataku sambil mengetikkan nomor Alice dan memencet tombol “call”


“ah, aku juga.” Kata Rei


“ikut ikutan saja kerjanya”, kataku menggodanya


“suka suka aku kan. Mana sini ?”


“haha.. oh, baiklah, aku simpan nomor kalian bertiga ya. Lalu setelah ini kita mau ke mana ? pulang ?”, kata Alice, masih dengan perasaan senang. Terlihat dari wajahnya.


“tentu saja tidak, kita akan berbelanja.”, kata Riri menyisipkan stakato pada kata kata kesukaannya.


“oh”, kurasa hanya itu yang dikatakan Alice.




“jadi, Alice, kau tinggal di mana ?”, Tanya Riri sambil memilih milih baju. Jujur saja. Sebenarnya dia membantu sekali. Kalau saja dia tidak di sini sekarang. Kami mungkin hanya akan berdiam diri satu sama lain. Atau malah aku tidak akan pernah kenal Alice. Haah. Anak ini. Pikirku


“hm, aku tinggal di daerah sana, di dekat perusahaan air minum itu lho.”, katanya sambil menggerak gerakkan tangannya.


“kau benar tinggal di situ ?”, kataku kaget. “itu kan kawasan elite.” Kataku lagi. Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tinggal di salah satu rumah yang semuanya berlantai 3 dengan gaya Amerika.


“hmm... iya aku tinggal di sana. Kalian mau main ? ah, tapi mungkin tidak sekarang, lain kali mau ?”, katanya mengajak kami ke istana. Haah


“tentu. Tentu.”, kata Riri


“emh, ngomong ngomong, Rei ke mana ?”, tanyaku yang baru saja menyadari salah satu sahabatku tidak ada bersamaku


“tadi sepertinya dia mendapat telepon lalu pulang.”, kata Riri menjelaskan. Ah, dia memang sejak tadi terus bersama Rei.


“oh..”, kataku


Akhirnya kami pun sukses berkeliling mencari cari baju selama hampir 3 jam tanpa membeli apapun. Dan tahukah anda apa alasannya ? Riri lupa membawa uang. Saat ditanya mau dipinjami uang Alice dia menolaknya dengan tegas. Dasar anak manis. Dan dia juga sukses membuat kakiku mati rasa karena kedinginan. Maaf saja. Kami tidak berbelanja di toko yang hangat. Tapi di emperan di pinggir jalan dan saat itu suhu hanya 4 derajat celcius. Hahahaha. Menyenangkan sekali. Ya sudahlah. Toh akhirnya kami berpisah dan pulang.


Aku sedang meng-update status facebook-ku saat tiba tiba handphone-ku bunyi. Alice. Ada apa ya, pikirku.


“halo”, kataku saat mengangkat teleponnya


“ah, apakah ini Hana ?”, tampak sedikit kegelisahan yang menyelimuti suaranya saat dia menanyakan hal itu.


“iya, aku Hana, ada apa Alice ?”, kataku sedikit bingung


“oh. Tidak apa apa. Hanya ingin memastikan. Maaf aku mengganggumu, selamat malam.”, kata Alice terburu buru dan langsung mematikan teleponnya sebelum aku membalasnya.


Ada apa ini ? kan kalau hanya ingin memastikan sms juga bisa. Batinku.

Ya sudahlah. Mungkin dia mengira aku sedang tidak punya pulsa. Haha. Karena hari sudah sangat larut, kupikir lebih baik aku tidur saja sekarang. Jadi aku mematikan komputerku dan handphone-ku seperti yang biasanya kulakukan. Dan akupun pergi ke alam mimpi yang hangat.


*lanjuuut nantiiiiiiiiiiiiiiiii